MEMAHAMI SIKAP SABAR

From: Arland hmd098
Date: Sat, Mar 11 2006 2:00 pm

MEMAHAMI SIKAP SHABAR

Menurut Imam al-Ghazali, sabar itu terbagi ke dalam dua sudut pandang, yaitu :
pertama: sabar ditinjau dari aspek subyek atau pelakunya,
kedua: sabar ditinjau dari aspek tingkat kekuatan dan kelemahannya.

Kedua segi umum ini kemudian terbagi lagi ke dalam beberapa sub bagian.

1. Sabar Ditinjau dari Aspek Subyeknya
Ditinjau dari aspek subyek atau pelakunya, sabar terbagi ke dalam dua hal, yakni sabar yang bersifat fisik (badany) dan sabar yang bersifat psikis (nafsy).

Sabar yang bersifat fisik (badany) ini dapat berujud kesabaran dalam perbuatan (fi’ly), seperti sabar dalam melanggengkan ibadah shalat malam yang panjang dan melelahkan, dan dapat pula berupa ketabahan dalam menanggung penderitaan (ihtimaly).
Contohnya seperti kesabaran untuk tidak membalas pukulan keras yang dilontarkan seseorang lewat perkataannya atau sabar dalam cobaan sakit yang sangat parah.

Sedangkan sabar yang bersifat psikis (nafsy) adalah kesabaran jiwa dan hati untuk tidak menuruti keinginan hawa nafsu.

2. Sabar Ditinjau dari Aspek Tingkat Kekuatan dan Kelemahannya

Sabar ditinjau dari aspek ini terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu :
a. Kemampuan mengendalikan dan mengalahkan hawa nafsu secara total dan paripurna, sehingga tidak tersisa sedikitpun perlawanan dari hawa nafsu tersebut.
b. Ketidakberdayaan sama sekali di hadapan bujuk rayu hawa nafsu, sehingga yang bersangkutan hanyut dan terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa.
c. Inkonsistensi dalam pengendalian hawa nafsu, sehingga terkadang yang bersangkutan mampu mengalahkannya, namun terkadang pula ia dikalahkan oleh hawa nafsu tersebut.

Sabar dalam aspek ini (ad c) juga terbagi kepada :
a. Tashabur, artinya yang bersangkutan harus mengerahkan segenap kemampuannya dengan susah payah untuk mengalahkan nafsunya.
b. Shabr, artinya yang bersangkutan tidak perlu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dapat mengalahkan nafsunya. Dalam hal ini, yang mampu melakukannya adalah orang yang mempunyai kualitas keimanan dan ketakwaan yang memadai. Dengan kualitas iman dan takwanya yang prima, seberat apapun godaan dan cobaan dari hawa nafsu, baginya tetap merupakan lawan yang mudah ditaklukkan dan dijinakkan.

Sebagai contoh ilustrasi, misalkan seorang pegulat yang besar dan kuat akan dengan mudah mengalahkan lawannya yang kecil dan lemah (shabr), namun seorang pegulat yang kecil dan lemah harus susah payah mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatannya untuk mengalahkan lawannya (tashabur).

Adapula sebagian ulama ahli ma’rifat yang membagi tingkatan orang yang senantiasa sabar (ahl shabr) ke dalam tiga tingkatan, yaitu :
a.Meninggalkan syahwat (keinginan nafsu), tingkatan ini adalah tingkatan orang yang taubat (ta’ibin).
b.Ridla dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya, tingkatan ini adalah tingkatan orang yang zuhud (zahidin).
c.Mahabah (mencintai) apa saja yang Allah SWT lakukan dan perintahkan, dan ini adalah tingkatan orang-orang yang benar atau lurus (shidiqin).

Kawan….. Semoga kita mampu menempati -paling tidak- salah satu tangga dari banyak tangga yang ada dalam maqam kesabaran ini, Insya Alloh…..

Amien Allohumma Ya Robbal ‘Alamien………

wallohu a’lam bish-shawab,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s