Distro Linux

Bagi yang ingin beralih ke Sistem Operasi Linux dapat pikir2 dulu kira2 mau pakai yang mana! dibawah ini macam distro linux.

Ubuntu 5.04
Ubuntu mengambil namanya dari bahasa Afrika Kuno. Menurut situs Ubuntu (www.ubuntulinux.org), nama Ubuntu bermakna “kemanusiaan bagi sesama”. Distro ini lahir dari keinginan para pengembang Linux untuk menyajikan sebuah distro Linux yang mudah dipakai, handal, berkualitas, dan gratis. Ubuntu dapat dipakai baik untuk mesin yang berfungsi sebagai server maupun sebagai komputer desktop. Distro ini juga mendukung aneka prosesor yang ada di pasaran seperti Intel x86, AMD64, dan PowerPC.

Proyek Ubuntu (Ubuntu Project) disponsori oleh Canonical Ltd. Para peminat Ubuntu bisa memesan CD Ubuntu dalam jumlah yang mereka inginkan secara gratis dengan cara mengunjungi situs Ubuntu. Namun, para peminat Ubuntu juga bisa melakukan download file image Ubuntu (dalam bentuk file .iso) dengan cara mengunjungi alamat http://www.ubuntulinux.org/download/. Berhubung Ubuntu didistribusikan dalam dua CD, pastikan Anda mendapatkan atau men-download file image yang sesuai dengan keperluan. Sebagai informasi, versi install CD merupakan distro Ubuntu yang dikhususkan untuk dipasang dalam harddisk. Sementara versi Live CD merupakan distro Ubuntu yang dikhususkan untuk dijalankan secara langsung via CD-ROM tanpa perlu di-install lagi ke dalam harddisk.

Ubuntu 5.04 Hoary Hedgehog merupakan versi terbaru sistem operasi ini. Sistem operasi ini membutuhkan komputer dengan spesifikasi prosesor dari keluarga x86 (Intel 486, Pentium, Pentium II, III, dan 4), AMD, atau VIA (dahulu Cyrix), kartu grafis VGA dengan kedalaman 256 warna atau lebih tinggi, RAM 128MB atau lebih tinggi, sebuah CD-ROM drive, dan ruang harddisk sekitar 1 gigabyte atau lebih tinggi (jika akan dipasang dalam harddisk). Spesifikasi ini merupakan kebutuhan dasar untuk menjalankan modus grafis dalam Ubuntu. Jika pengguna lebih suka dengan modus teks, spesifikasi komputer yang diperlukan bisa lebih rendah lagi daripada spesifikasi tersebut.

Feature, Aplikasi Built in, dan Pemakaian
Selain gratis, feature Ubuntu yang lain adalah jaminan akan adanya rilis terbaru atau pembaruan berkelanjutan dari para pengembangnya. Pengguna juga bisa menambahkan aneka aplikasi penting bagi Ubuntu dengan cara mengakses aneka gudang (repository) Ubuntu. Jika pengguna mengalami kesulitan dengan pemakaian Ubuntu, tersedia mailing list, forum Web, channel IRC, dan sebuah situs tidak resmi sebagai panduan (beralamat di http://www.ubuntuguide.org).

Saat dijalankan, Ubuntu versi instalasi maupun Live CD dapat memboot komputer dengan cepat. Dukungan kernel 2.6 dan dukungan perkakas yang dimilikinya membuat Ubuntu bisa mengenali semua perangkat yang terpasang dalam komputer kami. Bahkan, sebuah speaker yang terhubung ke port USB pun langsung “menyalak” tatkala Ubuntu diboot.

Ubuntu memiliki aneka paket aplikasi siap pakai, seperti paket perkantoran (OpenOffice versi 1.1.3 dan Evolution), 17 permainan (seperti Atax, Blackjax, FreeCell, Mahjong, Mines, dan Same Gnome), dan aplikasi Internet (seperti Mozilla Firefox 1.0.4, Gaim Internet Messenger yang kompatibel dengan Yahoo! Messenger, Evolution Mail untuk mengambil e-mail, dan Xchat IRC untuk melakukan chatting via kanal IRC). Selain itu, Ubuntu juga telah dilengkapi dengan aplikasi grafis (seperti GIMP Image Editor, gThumb Image Viewer, dan Image Viewer), software audio dan video (CD player, music player, Totem Movie Player), software accessories (seperti Archive manager, Calculator, Dictionary), dan software system tools (seperti add/remove programs, file browser, system monitor). Pengguna juga bisa memanfaatkan aneka perkakas lain seperti Preferences atau Administration untuk melakukan pemeliharaan dalam sistem.

Tampilan desktop Ubuntu terlihat rapi dan bersih. Sebagai default, hanya terlihat tiga icon saja, yakni Computer, folder Home pengguna, dan Trash. Jika sebuah CD dimasukkan, icon CD tersebut akan muncul pada desktop secara otomatis berikut title CD tersebut (jika ada). Feature ini mengingatkan kita akan sistem operasi Macintosh. Sayangnya, Ubuntu belum dilengkapi dengan dekoder multimedia built in. Akibatnya, kita tidak akan bisa mendengar lagu-lagu MP3 kesayangan kita sebelum dekoder tersebut di-download. Prosedur penambahan dekoder pun terlihat cukup merepotkan karena harus dilakukan via root terminal dan bukan via menu grafis. Memang, kita bisa memanfaatkan fasilitas copy paste memanfaatkan perintah yang ada dalam situs Web http://ubuntugide.org. Namun, kerepotan ini boleh jadi akan menyusahkan para pengguna awam yang belum akrab dengan perintah-perintah berbasis teks. Mudah-mudahan, di versi berikutnya, masalah ini sudah bisa diatasi oleh para pengembang Ubuntu.

Terlepas dari segala kekurangannya, Ubuntu merupakan sebuah sistem operasi yang menarik dan sesuai bagi para pengguna komputer. Kemudahan pakai, jaminan pengembangan, dan lisensinya yang (dijanjikan) selalu gratis merupakan pemanis utama yang menarik hati para pengguna.

Knoppix 3.8
Knoppix boleh dikatakan sebagai pelopor Live CD, yakni sistem operasi yang bisa langsung dijalankan dan dipakai tanpa instalasi. Sistem operasi ini dirintis oleh sekumpulan programer dan pengguna Linux dari Jerman. Menurut situs resminya di http://knoppix.com/, Knoppix bisa dipakai sebagai sistem siap pakai untuk keperluan sehari-hari, untuk kepentingan edukasi dan demo produk di sekolah atau perguruan tinggi, atau sebagai perkakas untuk perbaikan (recovery). Dengan menggunakan metode dekompresi secara on the fly, sebuah CD berkapasitas sekitar 700MB bisa dipakai untuk menjalankan sistem Linux lengkap berkapasitas 2 gigabyte.

Berbeda dengan Ubuntu yang mengandakan Gnome sebagai antarmuka grafisnya, Knoppix menggunakan KDE versi 3.32 sebagai antarmuka grafis default-nya. Dalam hal versi, distro ini hanya memiliki satu file image untuk di-download, yakni versi Live CD. Jika pengguna ingin memasang Knoppix ke dalam harddisk-nya, mereka bisa memanfaatkan perkakas yang telah disediakan dalam versi tersebut. Saat ini, versi terbaru Knoppix adalah 4.0. Sayangnya, pada saat artikel ini ditulis, versi ini baru tersedia untuk bahasa Jerman dan dikemas dalam sekeping DVD. Sementara untuk bahasa Inggris, versi terbaru Knoppix adalah 3.9.

Knoppix dapat dipasang dalam komputer dengan spesifikasi prosesor berbasis Intel atau kompatibelnya (486 atau lebih tinggi), RAM berkapasitas sekitar 128MB untuk menjalankan modus grafis dengan KDE dan aneka aplikasi perkantoran, sebuah CD-ROM drive tipe IDE/ATAPI/USB/SCSI/Firewire), sebuah kartu grafis standar VGA, mouse dengan konektor PS/2, serial, atau USB, dan harddisk berkapasitas 1GB atau lebih tinggi (jika akan dipasang dalam harddisk). Jika pengguna hanya ingin menjalankan Knoppix dalam modus teks, kebutuhan RAM dan harddisk tentu saja akan lebih rendah daripada spesifikasi tersebut.

Feature dan Aplikasi
Selain dilengkapi dengan KDE 3.32 sebagai antarmuka grafisnya, Knoppix juga dilengkapi dengan berbagai aplikasi Internet (seperti browser Konqueror, Mozilla Firefox 1.0.3, Kmail, dan Thunderbird Mail), aneka aplikasi multimedia (seperti Multimedia System/xmms dengan dukungan terhadap format MPEG dan MP3, serta Player yang bisa memainkan file-file dengan format Ogg Vorbis), aneka aplikasi grafis (seperti Gnu Image Manipulation Program (GIMP) Versi 2.2), aneka perkakas untuk perbaikan sistem atau penyelamatan data, aneka perkakas administrasi jaringan, aplikasi perkantoran (seperti OpenOffice 1.1.4), dan aneka program dan perkakas pengembangan. Software yang tersedia sebenarnya lebih banyak lagi hanya saja tidak tidak bisa kami sebutkan satu per satu di sini.

Berbeda dengan Ubuntu yang tidak mengaitkan (mounting) semua sumberdaya dalam PC secara otomatis, Knoppix 3.8 secara otomatis menampilkan aneka harddisk, partisi, disket, dan CD-ROM yang ada dalam PC pengguna sekaligus melalukan proses mounting ke aneka sumberdaya tersebut. Namun, jika dibooting dari CD, secara default Knoppix hanya akan melakukan proses mounting secara read only terhadap harddisk dan dan semua partisi di dalamnya. Artinya, Anda hanya bisa membaca partisi tersebut tanpa bisa menyimpan apa pun ke dalamnya. Bagaimana jika kita ingin menyimpan hasil suntingan file teks kita? Anda harus mengubah dulu hak akses ke sumber daya tersebut ke modus read/write. Caranya mudah saja. Kita klik kanan partisi atau harddisk yang akan diakses dan pilih Actions*Change read/write mode. Sebagai alternatif, kita juga bisa menggunakan disket yang secara default tidak memiliki batasan akses sebagaimana halnya harddisk atau partisi harddisk. Namun, otomatisasi mounting ini memiliki sedikit sisi negatif yang mengganggu, yakni membuat tampilan desktop menjadi “penuh”. Hal ini khususnya amat terlihat jika dalam PC pengguna terdapat banyak partisi yang berisi aneka sistem operasi.

Meskipun dijalankan secara langsung via CD ROM, Knoppix dapat juga dipakai untuk mengakses Internet. Dengan melakukan konfigurasi sederhana menggunakan perkakas Network/Internet*Network card configuration dari icon bergambar pinguin gemuk, kita bisa mengkonfigurasi kartu jaringan yang dipakai. Hal-hal yang bisa dikonfigurasi misalnya alamat IP, alamat gateway, serta alamat DNS server. Jika kita terhubung ke Internet menggunakan proxy server, kita tentunya harus mengatur setting proxy server dalam browser terlebih dulu.

Menu konfigurasi yang tersedia dalam Knoppix memudahkan pengguna mengatur aneka perangkat keras dan lunak sesuai dengan keinginannya. Menu ini dikelompokkan menjadi satu dalam icon bergambar pinguin gemuk. Dalam menu ini, selain terdapat perkakas untuk mengatur konfigurasi jaringan dan Internet via media kabel atau nirkabel, pengguna juga bisa mengatur konfigurasi kartu suara, TV card, printer, file swap, aneka layanan (services) seperti SSH atau samba, dan aneka utiliti lain. Selain itu, masih tersedia sebuah fasilitas bernama KDE Control Center. fasilitas ini memungkinkan kita melihat isi perut komputer kita dengan cara mengklik bagian yang diinginkan. Kita bahkan bisa memodifikasi isian dalam bagian tersebut untuk membuat Knoppix berpenampilan atau berperilaku seperti yang kita inginkan.

Pendeknya, dengan kemudahan, dukungan aneka aplikasi, perkakas, dan fasilitas, Knoppix 3.8 cukup potensial untuk merebut hati para pengguna PC yang ingin mencoba Linux tanpa harus dipusingkan dengan aneka setting dan konfigurasi. Sifatnya yang gratis sangat menggiurkan para pemilik komputer yang telah lama mendambakan adanya sebuah sistem operasi handal dan gratis.

PC Linux OS
PCLinuxOS adalah distro Linux yang lahir pada musim panas 2003 dan awalnya dikembangkan dari Mandrake (sekarang Mandriva) 9.2. Saat itu Mandrake masih menggunakan kernel versi 2.4, devfs, dan XFree86. Dalam dua tahun ini, telah berevolusi menjadi sebuah distro yang sama sekali baru sebagaimana Mandriva berkembang meninggalkan akar RedHatnya. PCLinuxOS Preview 9 yang terbaru telah menggunakan Kernel 2.6.11-oci11 yang bekerja sempurna dengan desktop KDE 3.4.1. KDE 3.4.1 sendiri memanfaatkan backend hal/dbus untuk memudahkan automounting perangkat seperti usb key, cdrom, kamera, dan scanner.

PCLinuxOS disebarkan dalam bentuk live CD. Ini berarti Anda tidak perlu meng-install PCLinuxOS ke dalam harddisk. Cukup masukkan CDnya dan boot dari CDROM. Dalam waktu sekitar lima menit ,Anda sudah dapat menggunakannya. PCLinuxOS akan meng-uncompress data dari CD sambil jalan sehingga Anda dapat menikmati berbagai program yang berukuran sekitar 2 gigabyte. PCLinuxOS akan berjalan di memori dan memungkinkan Anda untuk mengakses seluruh komputer, membakar CD, menyimpan ke harddisk, menikmati hiburan digital atau berselancar di web. Live CD berarti portabilitas alias membawa lingkungan sistem yang sudah Anda kenal dengan baik kemanapun anda pergi.

Kalau merasa tidak puas karena menjalankan dari CD agak lambat, Anda dapat meng-install PCLinuxOS ke hard disk Anda. Untuk melakukannya, Anda cukup mengklik sebuah ikon di bagian kiri dan sebuah antarmuka instalasi akan muncul di layar. Antarmuka tersebut sangat intuitif dan sangat membantu bahkan untuk pengguna paling awam Linux sekalipun. Cukup jawab beberapa pertanyaan konfirmasi, klik sana sini, PCLinuxOS akan mulai diinstall di hard disk. Yang asyik adalah selama proses instalasi, PCLinuxOS tetap fungsional sehingga Anda dapat meng-install sambil mencoba berbagai program di PCLinuxOS. Dengan begini Anda terhindar dari rasa bosan menunggu proses instalasi.

Feature dan Aplikasi
Meng-install PCLinuxOS ke harddisk sekaligus meng-install berbagai program untuk kebutuhan Anda yang beragam. Pengembang PCLinuxOS nampaknya telah benar-benar memperimbangkan kebutuhan pengguna dan memilihkan aplikasi-aplikasi yang paling umum dipakai. Mulai dari aplikasi office, pengolah gambar, media player, games, sampai tools untuk para developer semuanya langsung diinstall dan menunggu Anda untuk mencobanya.

Untuk keperluan mendownload program baru dan mengupdate sistem agar tak ketinggalan zaman, PCLinuxOS menyediakan tool yang disebut Synaptic. Synaptic menjadi pintu Anda ke gudang aplikasi PCLinuxOS di Web; ribuan program gratis siap didownload tanpa bayar. Ketika Anda ingin menginstall sebuah program, mulai dengan menjalankan fasilitas search di Synaptic. Jika program tersebut belum terinstall dan tersedia di gudang aplikasi PCLinuxOS, Anda dapat langsung meng-install program itu lewat Synaptic. Synaptic juga memiliki feature smart upgrade untuk mengupgrade program atau sistem operasi yang sudah terinstall. Semuanya begitu mudah.

Kelebihan lain PCLinuxOS adalah adanya forum komunitas yang siap menjawab berbagai masalah Anda. Newbie tidak perlu sungkan bertanya tentang kesulitan yang ditemui, karena anggota komunitas lain dengan ramah akan menjawab pertanyaan Anda dengan jelas. Tak jarang para developer PCLinuxOS juga terlibat langsung dalam menjawab berbagai pertanyaan. Hal ini membuat forum dan milis PCLinuxOS menjadi sarana belajar yang asyik dan mendidik.

PCLinuxOS tak pelak lagi memenuhi semua syarat sebuah distro tidak membuat jera Linuxer pemula. Kemudahan instalasi, dukungan penuh untuk produktivitas dan hiburan, serta forum komunitas yang solid dan bersahabat. Tak heran jika beberapa ulasan distro menobatkan PCLinuxOS sebagai distro terbaik di tahun 2005.

Fedora Core 4
Pada semester pertama 2003, Red Hat mengumumkan untuk tidak lagi menjual produk konsumennya secara terpisah, dan melepasnya sebagai unit semi otonom yang diberi nama Red Hat Linux Project. Proyek ini melanjutkan produksi versi konseumen, tapi kali ini sebagai produk gratis yang melibatkan komunitas Linux.

Fedora Core adalah distro besutan Red Hat Project setelah bergabung dengan Fedora Project, sebuah proyek komunitas yang mengkhususkan diri membuat berbagai paket aplikasi untuk dijalankan di Red Hat Linux.

Melihat sejarahnya, Fedora Core jelas merupakan hasil evolusi dari Red Hat Linux yang berhenti di versi 9. Karena hasil evolusi, Fedora Core memiliki penampilan, “rasa”, dan fungsionalitas khas Red Hat Linux.

Fedora Core 4, dirilis tanggal 13 Juni 2005, adalah rilis terbaru dari Fedora Project yang menawarkan banyak perbaikan dan feature baru dibanding versi pendahulunya. Fedora Core 4 memuat semua update software terbaru, termasuk GNOME 2.10 dan KDE 3.4 yang semakin cantik dan menunjang kinerja.

Fedora Core 4 dapat dibakar ke empat keping CD atau sebuah DVD. Distro ini tidak menggunakan live CD dan harus diinstall ke harddisk. Instalasi Fedora Core 4 mudah, dan tidak banyak berubah dari rilis sebelumnya. Fedora menggunakan installer Anaconda yang berbasis grafik sehingga mudah diikuti. Distro ini juga dapat bekerja dengan baik di berbagai spesifikasi sistem tanpa perlu ngoprek di command line. Kabar baik untuk para pengguna komputer Apple, Fedora Core 4 kini mendukung penuh arsitektur CPU PowerPC, sehingga dapat dijalankan di prosesor Apple G3, G4, bahkan G5. Dengan begitu, kini pengguna Apple memiliki alternatif sistem operasi yang stabil selain Mac OS X.

Feature dan Aplikasi
Beberapa paket dihilangkan dari rilis ini (contohnya abiword, xmms, exim) karena sama fungsinya dengan paket yang sudah ada, beberapa lainnya ditambahkan. Paket baru di antaranya adalah pembaca PDF Envice, OpenOffice 2.0 Beta, dan compiler GCC4. Sebuah feature yang menarik adalah dimasukkannya paket Xen secara default ke Fedora Core 4. Xen memungkinkan beberapa virtual computer untuk berjalan pada sebuah sistem fisik tunggal.

Kemudahan meng-install software tambahan disediakan oleh RPM (Red Hat Package Manager). Besarnya pangsa pasar yang dimiliki oleh Red Hat membuat RPM untuk Fedora tersedia melimpah di Web. Anda dengan mudah dapat memperoleh RPM yang pas untuk kebutuhan Anda.

Salah satu kelebihan Fedora Core 4 sebagai distro premium adalah tingkat sekuriti yang ditawarkan. Amannya Fedora Core 4 membuatnya ideal bukan hanya untuk lingkungan desktop tapi juga untuk lingkungan server dimana stabilitas dan sekuriti sangatlah penting. Sekuriti Fedora Core 4 diperkokoh dengan adanya paket SELinux (Security-Enhanced Linux) yang memperketat privilese sistem untuk beberapa daemon UNIX.

Terkait dengan bagaimana Fedora Project nampaknya membuat satu kaki Fedora Core menapak di ranah personal desktop sementara satu kaki lain menapak di dunia server, ada keluhan tentang dukungan multimedia Fedora Core. Fedora Core seringkali harus sedikit dioprek agar kompatibel dengan beberapa perangkat multimedia tertentu. Selain itu, karena lisensinya yang open source, secara default Fedora Core tidak dapat menjalankan beberapa format media proprietary seperti Windows Media, MP3, atau DVD.

Secara keseluruhan, Fedora Core menjanjikan sebuah distro yang mapan, aman, dan padat feature. Satu hal lagi, komunitas pengguna distro paling populer di Amerika ini termasuk paling besar sehingga Anda tidak perlu khawatir memecahkan kesulitan Anda sendirian tanpa bantuan.

SUSE LINUX Professional 9.3
SUSE LINUX termasuk distro yang paling dihormati sebagai penyedia solusi dan teknologi unggul di dunia sistem operasi open source. Distro asal Jerman ini memiliki tim developer terbesar di dunia yang telah banyak berjasa mengangkat nama SUSE sebagai solusi Linux paling lengkap saat ini. Pada tahun 2003, SUSE LINUX resmi diakuisisi oleh Novell, Inc.

SUSE Linux Professional (SLP) 9.3 adalah sebuah distro sistem operasi desktop yang mengundang decak kagum saat dicoba. Distro ini memiliki semua aplikasi Linux yang kemungkinan besar dibutuhkan oleh semua orang. Berbagai aplikasi itu kemudian disajikan dengan pilihan antarmuka KDE Atau GNOME yang terbaru.

Yang perlu diingat adalah sejak awal adalah SUSE LINUX punya reputasi sebagai distro yang bukan diperuntukkan buat pengguna awam. Jadi, jangan mengharapkan distro ini akan semudah Xandros atau Linspire. Tidak perlu takut untuk mencobanya mengingat lengkapnya dokumentasi yang tersedia untuk distro ini, hanya saja distro ini mungkin lebih tepat untuk developer, seorang power user, atau seseorang yang tertarik untuk mencoba sampai sejauh mana desktop Linux dapat digunakan.

Sebagai distro Linux high-end, SLP 9.3 dapat dijalankan di Pentium berkecepatan rendah dengan memory minimal 128MB dan ruang harddisk 500MB. Tentu saja yang disarankan adalah prosesor minimum Pentium 1GHz, memory 256MB, dan harddisk 2,5GB.

Feature dan Aplikasi
Walaupun instalasi SLP 9.3 jelas tidak semudah distro Linux untuk pemula, akan dianggap mudah oleh mereka yang sudah memiliki pengalaman meng-install Linux. Memakan waktu sekitar satu jam, setelah terinstall SLP 9.3 akan beroperasi sempurna.

SLP 9.3 dibangun di atas kernel Linux 2.6.11 dan pilihan untuk menggunakan KDE 3.4. atau GNOME 2.10. Distro ini juga dilengkapi software terkini di dunia desktop Linux, seperti browser Firefox 1.01, klien groupware Novell Evolution 2.2.1, dan Adobe Reader 7.

Sebagai tambahan distro ini menyertakan OpenOffice.org 2.0 Beta; klien VoIP Linphone; kompabilitas dengan iPod; dan aplikasi manajemen foto F-Spot, program open source sejenis Picasa 2 dari Google. Mereka yang mencari alternatif bisa menemukan browser Epiphany 1.6 dan opera 7.54, serta pengolah teks AbiWord 2.2.4.

Para developer dapat dipuaskan dengan berbagai aplikasi untuk membuat program dalam bahasa C, C++, Java, Mono, Perl, Phyton dan banyak bahasa lainnya. SLP 9.3 juga sudah dilengkapi dengan program virtualisasi Xen 2.05 yang sangat berguna bila developer ingin menguji programnya dalam berbagai skenario lingkungan sistem.

Update dan instalasi program baru difasilitasi dua aplikasi khas SUSE. Yang pertama SuSE Watcher, yang secara otomatis memantau tersedianya update atau software baru. Setelah pengguna memilih update atau aplikasi yang ingin diinstall, Suse Watcher akan menjalankan aplikasi administrasi YaST, yang akan melanjutkan instalasi update atau aplikasi itu.

SLP 9.3 jadi pilihan tepat bagi Anda yang mencari desktop Linux canggih. Distro ini dapat Anda miliki dengan membeli lima keping CD Instalasinya seharga sekitar US$100. Lho kok bayar ? ya karena SLP 9.3 memang bukan sistem operasi gratis. Bagi mereka yang penasaran ingin mencoba mungkin harus puas dengan Live Evaluation CD dari SUSE.

Linux Xnuxer
Masih ingat Dani Firmansyah? Pria bernama alias Xnuxer ini sempat membuat heboh karena mengubah tampilan situs resmi KPU saat Pemilu. Juli lalu, Dani mengumumkan peluncuran distro Linux hasil oprekannya.

Distro yang menurut Dani dikerjakan sendirian selama 7 hari 7 malam itu diberi nama Xnuxer Linux versi 1. Distro ini disebarkan dalam bentuk live CD yang dapat dijalankan tanpa instalasi.

Xnuxer Linux dibangun di atas fondasi distro Debian Sarge 3.1 dan Knoppix 3.9. “Konsep yang diaplikasikan di Xnuxer Linux adalah membuat Linux bisa digunakan dengan mudah oleh end-user dengan mempercantik tampilan KDE tanpa mengurangi kinerja” begitu dipaparkan oleh Dani.

Harapan Dani sepertinya tercapai. Anda dapat menikmati sendiri KDE dengan penampilan yang berbeda dari biasanya. Lebih sederhana dan membuat Linux terlihat mudah. Mereka yang sudah terbiasa dengan Windows kemungkinan besar tetap “merasa di rumah” saat mencoba Linux Xnuxer.

Untuk meng-install Xnuxer diperlukan CD yang berbeda dari live CD nya. Ini membuat Xnuxer tidak sepraktis PCLinuxOS yang memungkinkan pengguna melakukan instalasi langsung dari live CD. Instalasi Xnuxer ke harddisk tidak menggunakan antar muka grafis tapi tetap cukup mudah untuk diikuti. Pengguna awam yang anti antarmuka teks dapat menjadikan distro ini sarana belajar dan berlatih agar semakin akrab dengan Linux.

Feature dan Aplikasi
Xnuxer sudah menggunakan kernel 2.6.11 dan dilengkapi dengan aplikasi-aplikasi paling esensial untuk berbagai kemungkinan kebutuhan pengguna. Mulai dari aplikasi office yang menggunakan OpenOffice, pengolah gambar GIMP, browser Mozilla Firefox, sampai VIM untuk developer. Dani sepertinya memilih secara pribadi aplikasi-aplikasi yang dipaket ke dalam Xnuxer untuk membuat distro ini ringkas tanpa membuatnya kekurangan fungsionalitas.

Yang agak kurang dari distro ini mungkin dukungan komunitas pemakai. Bagaimanapun distro ini masih sangat baru dan hasil karya satu orang saja. Untungnya distro ini berbasis Knoppix sehingga pengguna yang kebingungan dapat berkonsultasi dengan komunitas pengguna Knoppix atau dokumentasi Knoppix. Selain itu, karena Dani warga lokal, pengguna juga dapat dengan mudah mengontaknya kapan saja.

Mandrake 10.0
Mandrake merupakan salah satu ditribusi Linux bahkan yang pertama menerapkan konsep sistem operasi dengan antarmuka grafis yang sangat “bersahabat” dengan penggunanya.

Proyek distribusi Linux ini sebenarnya sudah dimulai Mandrake sejak tahun 1998. Dengan konsentrasi pengembangan Linux yang lebih mudah, Mandrake telah mengubah momok “menyeramkan” Linux yang awalnya penuh dengan konfigurasi rumit menggunakan perintah baris menjadi distribusi Linux yang menawarkan lebih banyak kemudahan.

Perubahan serta penambahan beberapa feature baru terus dilakukan Mandrake dari waktu ke waktu. Bahkan untuk menandainya, Mandrake mengubah keseluruhan nama distribusi menjadi Mandriva. Hingga kini nama Mandriva digunakan sebagai kelanjutan pengembangan distribusi Linux Mandrake.

Versi distribusi Linux terakhir yang dirilis oleh Mandriva adalah 10. Masih bercirikhas kemudahan antarmuka pengguna yang dimiliki distribusi Mandrake terdahulu, Mandriva 10 juga dibekali dengan Linux kernel 2.6.3.

Instalasi distribusi Linux yang satu ini terbilang sangat mudah. Sebelum Mandrake dikembangkan, pengguna yang akan menginstall Linux diharuskan mengerti setidaknya cara mengkompilasi kernel Linux dan modul yang terkait dengan kernel tadi. Terkadang proses ini memakan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Hal ini disadari oleh beberapa pengembang distibusi Linux lain seperti RedHat dan Suse. Mereka mulai mengembangkan sebuah antarmuka instalasi linux.

Berangkat dari sanalah Mandrake kemudian mengembangkan antarmuka instalasi yang lebih baik. Penataan informasi serta langkah-langkah instalasi dikemas sedemikian sehingga tidak terlihat lagi kerumitan instalasi Linux yang sesungguhnya.

Antarmuka grafis merupakan salah satu senjata Mandrake. Ini ditujukkan mulai dari instalasi awal sampai saat pemakaian. Pengguna dapat memilih jenis antarmuka window saat proses instalasi, salah satu antarmuka populer yang sering dipakai adalah KDE. Antarmuka pengguna ini terdapat dalam paket distribusi Mandrake 10 dengan versi 3.2. Versi lain yang juga disertakan Mandrake untuk urusan antarmuka pengguna adalah GNOME 2.4.2 dan IceWM 1.2.13

Posisi Mandrake yang menempatkan diri pada penggunaan dirumah maupun kantor memaksa distribusi Linux ini menyediakan berbagai aplikasi yang dapat digunakan untuk kebutuhan tadi. Untuk aplikasi kantoran, Mandrake menyertakan OpenOffice versi 1.1. Program otomasi kantor ini disebarkan secara gratis oleh Sun Microsystem. Sementara untuk versi berbayar dari program otomasi kantor ini Sun hadir dengan Star Officenya.

Feature dan Aplikasi
Konfigurasi perangkat keras yang sulit sebenarnya telah diubah oleh Mandrake sejak pertamakali distribusi ini dirilis. Dalam setiap distibusi Linux yang dirilisnya, Mandrake menyediakan antarmuka konfigurasi terhadap perangkat keras. Pengguna secara otomatis tidak perlu lagi berhubungan dengan kerumitan konfigurasi yang sering terjadi pada distribusi Linux sebelumnya. Namun terkadang pengaturan terhadap beberapa perangkat keras yang membutuhkan driver atau modul tambahan tetap membutuhkan keahlian “memainkan” perintah baris milik Linux.

Mandrake Control Center merupakan sebuah contoh aplikasi antarmuka Mandrake yang digunakan untuk melakukan konfigurasi Mandrake baik terhadap perangkat lunak maupun keras. Control Center ini membuat konfogurasi di Mandrake mirip seperti jendela konfigurasi milik Microsoft Windows.

Untuk kalangan pengembang aplikasi, paket distribusi Mandrake turut mengikutsertakan komponen penting yang dapat digunakan untuk menciptakan aplikasi baru diantaranya GNU C Compiler (GCC) versi 3.3.2 dan Glibc 2.3.3 dengan dukungan Native POSIX Threads Library (NPTL). Sementara kebutuhan aplikasi internet dan basis data dijawab Mandrake dengan menyertakan Apache Web Server 2.0.48 dan MySQL 4.0.18.

Kemudahan baik dari segi instalasi dan konfigurasi sengaja disediakan oleh Mandrake untuk meraih pengguna pemula yang memang ingin mencoba sistem operasi Linux tanpa harus meninggalkan segmen pengguna non pemulanya.

***

Bagaimana merekam file ISO Linux Anda ke CD ?

Mungkin Anda pernah mengalami kesulitan tentang bagaimana “memperlakukan” file ISO Linux, karena memang file ISO ini tidak dapat langsung digunakan untuk melakukan instalasi. Jangan khawatir, kami akan menbantu langkah demi langkah menangani file ISO ini menggunakan aplikasi “Nero Express 6.0” dan “Burn4Free” sehingga menjadi CD Mandrake yang siap dipakai. Untuk ini dibutuhkan sebuah CD kosong untuk satu file ISO dan drive CD-R/RW atau DVD-R/RW.

1. Setelah Anda membuka aplikasi Nero Express, pilih “Disc Image or Saved Project” dari menu “What would you like to burn?”

2. Akan muncul jendela untuk memilih file ISO yang akan digunakan. Tentukan lokasi dimana Anda menyimpan file ISO tersebut dan jangan lupa pilih “Image Files” dari menu dropdown “Files of type” kemudian klik “open”.

3. Selanjutnya Nero akan meminta Anda menentukan drive tujuan (Destination drive) yang akan digunakan untuk membakar file ISO tadi kedalam CD. Pastikan Anda memilih drive fisik yang ada dan bukan image recorder. Pilih juga kecepatan tulis yang akan digunakan dibagian “writing speed”.

4. Jika CD kosong telah Anda masukkan kedalam drive, klik tombol next untuk melanjutkan ke proses penulisan ke CD.

Burn4Free merupakan program alternatif untuk merekam CD atau DVD dengan lisensi yang gratis. Anda juga dapat menggunkan aplikasi ini untuk menulis file ISO ke CD dan DVD. Berikut ini adalah langkah-langkahnya.

1. Buka aplikasi Burn4Free CD & DVD dari desktop atau start menu Windows. Pilih ikon “Burn ISO” dari menu yang ada. Jika Anda tidak melihat ikon tadi, munculkan lewat menu “view” dan pilih “show drive bay”, pastikan juga Anda berada pada mode expert.

2. Akan muncul jendela “open .ISO file”, disini Anda diminta menentukan ISO file yang akan direkam kedalam CD. Setelah path file ditentukan klik tombol OK.

3. Jika tidak ada masalah, Burn4Free akan menampilkan sebuah jendela konfirmasi apakah file ISO tersebut akan direkam atau tidak. Tekan “Yes” untuk melanjutkan atau “No/Cancel” jika ingin membatalkan proses.

Diedit dari sumber : http://www.infokomputer.com/feature/feature.php?id=4287

9 thoughts on “Distro Linux

  1. 🙂
    khehehehee
    Salam Bro.

    Terimakasih banyak Bro atas tulisan nya.
    /me minta ijin untuk paste ke noteped untuk bahan referensi.🙂

    oh iya, kalau disto linux_phlak download nya di mana 🙂
    terus pls ceritakan apa kekurangan dan kelebihannya
    hehehee mungkin itu aja, dan Terima Kasih Banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s