Adab Bagi Pendidik dan Penuntut Ilmu

Adab utama yang harus dimiliki oleh seorang ahli ilmu dan penuntut ilmu adalah: ikhlas mencari ridho Allah semata dan bermaksud untuk menghidupkan dien ini dengan mencontoh Rasulullah shalallohu `alaihi wa salam dalam segala tingkah lakunya. Begitu pula dalam proses belajar mengajar harus berniat mencari ridha Allah semata agar Allah menghilangkan kebodohan dan kegelapan dari dirinya dengan ilmu yang bermanfaat (maraji’ hal28).

Seorang pendidik haruslah sabar ketika mengajar dan berusaha sekuat tenaga untuk memberikan pemahaman kepada setiap siswa sesuai dengan kemampuan otaknya. Janganlah memberikan tugas yang tidak mampu dipikulnya, seperti menyibukkan untuk terlalu banyak membaca. Berilah motivasi kepadanya untuk mengikuti pelajaran secara rutin dan sering-seringlah memberi pertanyaan dan mengujinya. Selain itu juga hendaklah melatihnya untuk mengkaji masalah-masalah tertentu agar dapat menangkap dan menguasai permasalahan, serta dibantu dengan menjelaskan hikmahnya, tempat-tempat pengambilannya, dari ushul syariat yang mana masalah tersebut diambil. Pengenalan akan ushul dan kaidah-kaidah, berikut contoh-contoh permasalahannya dengan berbagai macam ragamnya merupakan salah satu teknik pengajaran yang paling bermanfaat.

Penuntut ilmu akan bertambah semangat dan bertambah kuat pemahamannya setiap kali ia merasakan nikmat dalam memahami apa yang ia pelajari dan ketika mendapatkan kemudahan dalam mencari rujukan. Begitu pula bagi seorang pendidik hendaknya membuka pemahaman siswa dengan seringnya diadakan pembahasan dan soal jawab. Menampakkan kegembiraan apabila ditanya atau ketika siswa mengutarakan hal-hal yang membingungkan atau apabila siswanya membantah apa yang disampaikan. Semua itu dalam rangka mengambil manfaat dan mencari kebenaran, bukan untuk membela ucapan yang ia katakan atau untuk mempertahankan pendapat yang ia pegangi.

Apabila ada orang yang dibawah dia dalam segi ilmu memberitahukan pendapat dia yang salah, hendaklah dia berterimakasih kepadanya dan membahasnya secara bersama-sama dengan maksud mencapai kebenaran yang sesungguhnya, bukan untuk mempertahankan jalan yang dia tempuh selama ini.

Rujuknya seorang guru kepada pemahaman siswanya -yang lebih mendekati kebenaran- lebih menunjukan kepada keutamaannya, ketinggian kedudukannya dan kebaikan akhlaknya serta kemurnian niatnya yaitu ikhlas mencari ridha Allah Ta`ala.

Apabila dia belum sampai kepada kedudukan seperti ini, maka biasakanlah dirinya untuk berbuat demikian dan melatihnya, karena dengan kebiasaan akan menghasilkan kemampuan dan dengan latihan akan meningkatkan derajatnya kepada kesempurnaan.

Seorang penuntut ilmu haruslah mempunyai adab yang baik terhadap gurunya, bersyukur kepada Allah yang telah memudahkan baginya mendapatkan seorang yang mendidiknya dengan ilmu padahal sebelumnya ia berada dalam kebodohan. Bersyukurlah kepada Allah yang telah berjasa menghidupkannya dari kematian dan membangunkannya. Hendaklah ia mempergunakan kesempatan emas ini dengan mengambil ilmu darinya setiap waktu.

Seringlah berdoa kepada Allah memohon kebaikan bagi gurunya baik saat berjumpa dengannya ataupun pada saat dia tidak ada karena Nabi shallallhu `alaihi wa sallam bersabda:
”Siapa yang telah berbuat baik kepada kalian, maka balaslah kebaikannya. Apabila kalian tidak mendapatkan sesuatu untuk membalas budi kepadanya, maka doakanlah (memohon kebaikan) untuknya sehingga kalian berpendapat telah membalas budinya” (HR.Ahmad 2/68,Abu Daud 1672,Nasa`i 5/82,Bukhari dalam buku Al-Adab Al-Mufrad 216, Ibnu Hibban 3408, Al Hakim 1/412 dan 2/13, At-Thayalisi 1895 dan selain mereka dari hadist Abdullah bin Umar bin Khattab radhiallohu `anhuma). Derajat hadist itu shahih (Syaikh Ali Hasan)

Kebaikan apakah yang lebih agung kalau bukan kebaikan berupa ilmu dan setiap kebaikan tidaklah langgeng kecuali kebaikan berupa ilmu, nasehat, dan bimbingan. Setiap perkara yang bermanfaat bagi manusia -yang sampai kepada seorang siswa atau yang lainnya- maka hal itu termasuk kebaikan dan amal jariyah bagi si pemiliknya.

Seorang kawan telah memberitakan kepadaku, bahwa dia pernah berfatwa mengenai satu masalah dalam hal ilmu faraidh (ilmu waris) dan syaikh (guru)nya yang telah mengajarkan hal tersebut telah meninggal dunia. Lalu dia bermimpi melihat syaikhnya sedang membaca di kuburnya dan berkata :”Masalah yang engkau fatwakan itu, pahalanya telah sampai pula kepadaku”. Hal ini sebagaimana terdapat dalam sabda Nabi shallallhu `alaihi wa sallam :
”Barangsiapa mempelopori jalan yang baik, maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya sampai hari kiamat” (HR.Muslim 1017)

Seorang penuntut ilmu haruslah haruslah bersikap lemah lembut terhadap gurunya, sopan ketika bertanya dan janganlah bertanya kepada gurunya pada saat dia sedang gusar, atau dalam keadaan penat atau marah. Ini agar dia tidak mempunyai pemikiran yang menyalahi kebenaran pada saat kacau pikirannya, atau paling tidak nantinya akan memberikan jawaban yang kurang lengkap.

Apabila seoarang penuntut ilmu mendapatkan gurunya berbuat kesalahan, maka janganlah menyebutkan kesalahan tersebut secara terus terang. Tetapi betulkanlah kesalahan dia dengan cara bertanya dan bersikap sebagai seorang siswa terhadap gurunya. Hendaklah hal itu dilakukan beulang-ulang sampai terang bagi sang guru mana yang benar, karena kebanykan manusia apabila kau tegur langsung kesalahannya, kecil sekali kemungkinan untuk rujuk, berat bagi dia untuk mengakui kesalahan, kecuali orang yang telah menguasai dirinya dan menghiasinya dengan akhlak yang terpuji. Orang seperti ini tidak akan tersinggung apabila pendapat dia dikritik atau ditegur secara langsung. Akan tetapi tipe orang seperti ini jarang sekali. Hanya dengan taufik Allah lah, kemudian dengan melatih jiwa untuk menekan gengsi, barulah orang tersebut akan mempunyai jiwa besar dengan mengakui kesalahannya dan rujuk kepada kebenaran (Hal 30-34)

Seorang guru haruslah memperhatikan kecerdasan dan kemampuan siswanya dalam menerima pelajaran. Janganlah ia membiarkan siswanya dalam menerima pelajaran. Janganlah ia membiarkan siswanya menyibukkan diri dengan buku yang tidak sesuai untuknya. Jika ia membiarkan saja, berarti dia tidak memberikan nasehat kepada siswanya. Sesungguhnya ilmu yang sedikit disertai dengan adanya pemahaman dan pengertian lebih baik daripada ilmu yang banyak tetapi beresiko tinggi untuk dipahami dan besar kemungkinannya untuk lupa.

Begitu pula ketika ia menyampaikan pelajarannya hendaklah disertai dengan penjelasan yang disesuaikan dengan pemahaman dan daya tangkap siswanya. Janganlah mencampuradukkan masalah antara yang satu dengan yang lainnya. Janganlah pindah dari masalah satu ke masalah lainnya sebelum materi itu dikuasainya dengan baik. Karena antara satu materi dengan materi lainnya itu saling berkesinambungan, sehingga akan memudahkan baginya untuk memahami materi berikutnya. Kalau tidak demikian, berarti akan menyia-nyiakan yang pertama dan tidak dapat memahami yang berikutnya. Kemudian semakin menumpuk masalah-masalah yang tidak dikuasai, sehingga ia akan bosan dan sempit dadanya untuk mengulang-ulang masalah tersebut. Oleh sebab itu janganlah perkara ini diremehkan.

Seorang guru hendaklah selalu memberikan nasehat kepada siswa semaksimal mungkin dan harus bersabar atas kelambanan siswa dalam hal pemahaman. Demikian pula bersabar atas kelakuan siswanya yang tidak baik atau kurang ajar dengan dengan penuh perhatian dan pemantauan untuk memperbaiki dan meluruskan adabnya (hal 42-43)

Hendaklah seorang penuntut ilmu duduk dengan sopan dihadapan gurunya, menampakkan kebutuhannya yang sangat kepada ilmunya dan mendoakan kebaikan untuknya pada saat bertemu dengannya, ataupun disaat tidak bertemu.

Apabila seoarang guru sedang memberikan faidah atau sedang menjelaskan hal-hal yang membuat bingung siswanya, maka janganlah ia menampakkan bahwa ia telah mengetahuinya sebelumnya, meskipun sebenarnya ia telah mengetahuinya. Akan tetapi hendaklah ia mendengarkan keterangan gurunya tersebut dengan serius. Hal ini apabila dia telah mengetahui sebelumnya, maka bagaimana dengan keterangan gurunya yang belum ia ketahui? Adab seperti ini baik sekali untuk dipraktekkan terhadap setiap orang baik dalam masalah ilmu ataupun percakapan lainnya, baik dalam masalah dien maupun dalam masalah keduniaan.

Apabila sang guru berbuat kesalahan dalam suatu hal, maka hendaklah penuntut ilmu menegurnya dengan penuh lemah lembut sambil memperhatikan situasi dan kondisi. Janganlah mengatakan kepadanya: ”Engkau telah berbuat salah! Sesungguhnya yang benar bukan seperti yang engkau katakan!” Tetapi hendaklah menegurnya dengan kata-kata yang sopan, menjadikan seorang guru sadar akan kesalahannya tanpa ada rasa gusar di hatinya. Cara seperti ini merupakan keharusan dalam bersikap terhadap seorang guru dan lebih mengena untuk sampai kepada kebenaran. Kritikan yang disertai dengan adab yang buruk akan membuat hati orang yang dikritik menjadi gusar, sehingga akan menghalanginya untuk dapat menangkap pemahaman yang benar dan menghalanginya untuk mengetahui maksud baik orang yang menegurnya.

Sebagaimana hal tadi merupakan keharusan sikap penuntut ilmu terhadap gurunya, maka haruslah bagi seorang guru apabila berbuat kesalahan agar rujuk kepada kebenaran.Meskipun sebelumnya ia telah menyampaikan satu pendapat kemudian terbukti bahwa pendapat tersebut salah, maka ia tidak segan-segan untuk rujuk kepada kebenaran karena sikap ksatria tadi merupakan tanda keadilan dan kerendahan hatinya terhadap kebenaran, baik yang datang dari anak kecil maupun orang dewasa.

Termasuk nikmat yang Allah berikan kepada seorang guru, ia mendapatkan dari para siswanya yang mau menegur kesalahannya, membimbing kepada kebenaran, sehingga kebodohan yang telah menyelimutinya selama ini menjadi lenyap. Maka seharusnya ia bersyukur kepada Allah Ta`ala kemudian berterimakasih kepada orang yang menasehatinya, baik ia seorang siswa atau selainnya, karena melalui sebaborang tadi ia mendapatkan hidayah Allah subhanahu wa ta`ala (hal 48-49).

Diantara hal yang paling agung yang harus dimiliki oleh ahli ilmu (dan penuntut ilmu, pent) adalah mempraktekkan apa yang ia sampaikan berupa akhlak yang terpuji dan membuang segala akhlak yang hina. Mereka adalah orang-orang yang paling utama untuk menjalankan segala kewajiban baik lahir maupun yang batin dan meninggalkan segala hal-hal yang haram, dikarenakan mereka memiliki keistimewaan berupa ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh selain mereka. Juga dikarenakan mereka adalah teladan manusia. Manusia pada dasarnya selalu mencontoh ulama mereka dalam kebanyakan urusan baik diakui atau tidak. Juga dikarenakan protes dan kecaman atas mereka apabila perbuatan mereka bertentangan dengan apa yang mereka katakan jauh lebih besar daripada kecaman yang dilontarkan kepada selain mereka atas perbuatan yang sama.

Para salafus shalih dahulu untuk memperoleh ilmu juga denagan mempraktekan ilmu tersebut. Apabila ilmu itu diamalkan akan menempel langsung dan bertambah serta banyak barakahnya. Sebaliknya apabila ilmu tersebut tidak diamalkan maka akan hilang dan tidak membawa barakah. Ruh ilmu dan kehidupannya serta tonggaknya hanya dengan mengamalkannya dengan akhlak yang terpuji, dengan mengajarkannya dan memberi nasehat. Tidak ada daya serta upaya kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi dan Maha Agung.

Rujukan:Al-Mu`in `ala Tahshil Adabil `Ilmi wa Akhlaqil Muta`allimin, karya Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid yang dikumpulkan dari buku Al-Fatawa As-Sa`diyah, penerbit Dar As-Shumai`i,Riyadh,Saudi Arabia,cet I th.1413H/1993)

Kehidupan Sehari-hari Yang Islami

Berusaha warnai hidup dengan ISLAM

1. Apakah selalu menjaga Shalat yang lima waktu?

2. Apakah hari ini membaca Al-Qur’an ?

3. Apakah rutin membaca Dzikir setelah selesai melaksanakan Shalat wajib ?

4. Apakah Anda selalu menjaga Shalat sunnah Rawatib sebelum dan sesudah Shalat wajib ?

5. Apakah Anda (hari ini) Khusyu dalam Shalat, menghayati apa yang Anda baca ?

6. Apakah Anda (hari ini) mengingat Mati dan Kubur ?

7. Apakah Anda (hari ini) mengingat hari Kiamat, segala peristiwa dan kedahsyatannya ?

8. Apakah Anda telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebanyak tiga kali, agar memasukkan Anda ke dalam Surga ? Maka sesungguhnya barang siapa yang memohon demikian, Surga berkata : ”Wahai Allah Subhanahu wa Ta’ala masukkanlah ia ke dalam Surga”.

9.Apakah Anda telah meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali ? Maka sesungguhnya barangsiapa yang berbuat demikian, neraka berkata : ”Wahai Allah peliharalah dia dari api neraka”. (Berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya : ”Barangsiapa yang memohon Surga kepada Allah sebanyak tiga kali, Surga berkata : ”Wahai Allah masukkanlah ia ke dalam Surga. Dan barangsiapa yang meminta perlindungan kepada Allah agar diselamatkan dari api neraka sebanyak tiga kali, neraka berkata : ”Wahai Allah selamatkanlah ia dari neraka”. (Hadits Riwayat Tirmidzi dan di shahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami No. 911. Jilid 6).

10. Apakah (hari ini) membaca hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ?

11. Apakah pernah berfikir untuk menjauhi teman-teman yang tidak baik ?

12. Apakah telah berusaha untuk menghindari banyak tertawa dan bergurau ?

13.Apakah (hari ini) menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ?

14. Apakah selalu membaca Dzikir pagi dan sore hari ?

15. Apakah (hari ini) telah memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala atas dosa-dosa (yang engkau perbuat -pent) ?

16. Apakah telah memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati Syahid ? Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya : ”Barangsiapa yang memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan benar untuk mati syahid, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan kedudukan sebagai syuhada meskipun ia meninggal di atas tempat tidur”. (Hadits Riwayat Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dalam shahihnya, Al-Hakim dan ia menshahihkannya).

17. Apakah telah berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar ia menetapkan hati Anda atas agama-Nya ?

18. Apakah telah mengambil kesempatan untuk berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di waktu-waktu yang mustajab ?

19. Apakah telah membeli buku-buku agama Islam untuk memahami agama ? (Tentu dengan memilih buku-buku yang sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena banyak juga buku-buku Islam yang tersebar di pasaran justru merusak pemahaman Islam yang benar -pent).

20. Apakah telah memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk saudara-saudara mukminin dan mukminah ? Karena setiap mendo’akan mereka Anda akan mendapat kebajikan pula.

21. Apakah telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala (dan bersyukur kepada-Nya -pent) atas nikmat Islam ?

22. Apakah telah memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat mata, telinga, hati dan segala nikmat lainnya ?

23. Apakah hari-hari ini telah bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya ?

24. Apakah dapat menahan marah yang disebabkan urusan pribadi, dan berusaha untuk marah karena Allah Subhanahu wa Ta’ala saja ?

25. Apakah telah menjauhi sikap sombong dan membanggakan diri sendiri ?

26. Apakah telah mengunjungi saudara seagama, ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala ?

27. Apakah telah menda’wahi keluarga, saudara-saudara, tetangga, dan siapa saja yang ada hubungannya dengan diri Anda ?

28. Apakah termasuk orang yang berbakti kepada orang tua ?

29.Apakah mengucapkan ”Innaa Lillahi wa innaa ilaihi raji’uun” jika mendapatkan musibah ?

30.Apakah hari ini mengucapkan do’a ini : ”Allahumma inii a’uudubika an usyrika bika wa anaa a’lamu wastagfiruka limaa la’alamu = Ya Allah sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan Engkau sedangkan aku mengetahui, dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa-apa yang tidak aku ketahui”. Barangsiapa yang mengucapkan yang demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menghilangkan darinya syirik besar dan syirik kecil. (Lihat Shahih Al-Jami’ No. 3625).

31.Apakah berbuat baik kepada tetangga ?

32.Apakah telah membersihkan hati dari sombong, riya, hasad, dan dengki ?

33.Apakah telah membersihkan lisan dari dusta, mengumpat, mengadu domba, berdebat kusir dan berbuat serta berkata-kata yang tidak ada manfaatnya ?

34.Apakah takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hal penghasilan, makanan dan minuman, serta pakaian ?

35.Apakah selalu bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taubat yang sebenar-benarnya di segala waktu atas segala dosa dan kesalahan ?

Nutrisi

Sumber nutrisi dari berbagai jenis dapat ditemukan dalam Dietary Guidelines for Americans – Panduan Diet Amerika. Klik pada nama nutrisinya untuk menemukan tabel makanan yang mengandung nutrisi tersebut.

Kebanyakan buah dan sayuran secara alami memiliki kandungan lemak, sodium dan kalori yang rendah. Tidak ada buah dan sayuran yang mengandung kolesterol. (Saus dan bumbu penyedap bisa menambah lemak, kalori atau kolesterol).

Buah dan sayuran adalah sumber berbagai nutrisi penting, seperti pot potassium, serat, vitamin C, vitamin A, vitamin E dan folat (asam folat).

Menu yang mengandung potassium tinggi dapat membantu menjaga tekanan darah yang sehat. Buah yang menjadi sumber potassium adalah pisang, buah atau jus prun, buah peach dan apricot kering, cantaloupe (melon yang dagingnya berwarna orange), melon yang dagingnya berwarna hijau/kuning muda, dan jus jeruk. Sayuran yang menjadi sumber potassium adalah kentang, produk tomat (pasta, saus dan jus), bit, kacang hijau, lima bean, winter squash, bayam, lentil, kidney bean, dan split peas.

Menu berserat dari buah dan sayuran, sebagai bagian dari menu sehat, dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan dapat mengurangi resiko terkena penyakit jantung. Serat sangat penting untuk menjaga agar dapat buang air besar secara teratur. Serat dapat membantu mengurasi konstipasi dan divertikula (timbulnya kantong pada dinding usus). Makanan yang mengandung serat seperti buah-buahan akan membuat perut terasa kenyang dengan hanya memakan sedikit kalori. Buah dalam bentuk utuh merupakan menu bersumber serat tinggi; sedangkan jus buah hanya mengandung sedikit atau bahkan tidak mengandung serat sama sekali.

Vitamin A menjaga kesehatan mata dan kulit juga membantu mencegah terjadinya infeksi

Vitamin C penting untuk pertumbuhan dan memperbaiki jaringan tubuh, membantu menyembuhkan luka potong dan luka gores, dan menjaga kesehatan gigi dan gusi. Vitamin C membantu penyerapan zat besi.

Vitamin E membantu melindungi vitamin A dan asam lemak esensial dari oksidasi sel.

Folat (asam folat) membantu tubuh membentuk sel darah merah. Wanita yang sudah cukup umur untuk hamil dan wanita yang sedang dalam trimestes pertama kehamilan harus mengkonsumsi folat dalam jumlah yang cukup, termasuk juga asam folat yang berasal dari makanan atau suplemen yang telah dikuatkan. Hal ini dapat mengurangi resiko terjadinya kelainan pada susunan syarag, spina bifida (adanya celah pada tulang belakang), dan anencephaly pada perkembangan fetus.

Ukhti Al-Muslimah…

dikutip dari kotasantri

KotaSantri.com : Ukhti Al-Muslimah…
Wanita yang tunduk di depan kekafiran berkata : “Kamu adalah wanita terpelajar. Di antara kami ada seorang dokter, ada sastrawati, ada wartawati, ada dosen yang mengajar di negeri kalian. Islam tak pernah melarang sedikit pun hal itu, tak ada perbedaan lagi antara laki-laki dan wanita. Senangkah anda pada kami?

Jawaban kami cukup menyitir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tak akan pernah rela padamu sampai engkau mengikuti agamanya. Katakanlah sesungguhnya petunjuk Allah adalah petunjuk yang sebenarnya.” (QS. 2 : 120).

Mereka berkata : “Cukup bagi saya dengan keIslamanmu terbatas pada ibadat ritual semata. Adapun ilmu anda, moral, tingkah laku, pakaian, ide, dan seluruh urusan dunia anda, wajiblah kamu mengikuti cara kami.”

Sungguh benar sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Kamu akan mengikuti cara orang-orang sebelummu, sedikit demi sedikit. Hingga andaikan mereka memasuki lobang biawak, kamu akan ikut masuk kedalamnya. Kami berkata : Apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam : Siapa lagi kalau bukan mereka.” (HR. Muslim).

Ukhti Al-Muslimah…
Kamu seharusnya memperhatikan pakaianmu dan berbuat serta wajib memiliki kepribadian Islam sebagaimana apa yang kamu dengar, lihat dan baca (ajaran Islam).

Sungguh sedikit orang yang berbuat dan mengajak kepada kebaikan, sebagaimana seruan seorang penyair Arab : “Wahai kamu yang selalu mengurusi badanmu. Betapa banyak usaha yang telah kamu lakukan. Apakah kamu mencari keuntungan dari sesuatu yang jelas rugi. Perhatikan jiwamu, sempurnakan keutamaannya, sebab kamu disebut manusia dengan jiwa, bukan karena tubuh jasadmu.”

Ukhti Al-Muslimah…
Jadikan Khadijah, suri tauladan dan panutanmu dalam berjuang dengan harta dan jiwa. Jadikan Aisyah, tauladanmu dalam ilmu pengetahuan. Jadikan keluarga Yasir, suri tauladan anda dalam kesabaran dan berpegang teguh pada agama Allah.

Wahai Ibu generasi mendatang, perhatikan perkataan seorang penyair Arab : “Ibu adalah madrasah, jika anda persiapkan, berarti anda mempersiapkan generasi yang harum namanya. Ibu adalah taman, jika ia selalu disiram, ia akan berdaun rindang. Ibu adalah ustadzah pertama, pengaruhnya sangat besar berbobot sepanjang masa.”

Ukhti Al-Muslimah…
Andai mereka melihat bentuk tubuhmu tidak menarik lagi atau ketika usiamu telah senja, tua renta, apakah mereka masih memajang fotomu, di sampul-sampul majalah, buku dan semisalnya, walaupun kamu orang yang terpelajar? Masihkah mereka memintamu bekerja sebagai pramugari di salah satu pesawat, dengan dalih penghargaanmu terhadap wanita? Masihkah kamu temui orang yang memperjuangkan sempitnya ruang lingkup belajarmu?

Sesungguhnya mereka hanya ingin menikmati kecantikan wajah dan kemolekkan tubuh serta merdunya suaramu. Bila hal itu hilang darimu, maka mereka pun pasti meninggalkanmu, seakan-akan kamu adalah sebuah barang yang sudah habis masa pakainya (kata pepatah : habis manis sepah dibuang). (HaidarAgung)

Nasehat Buat Laki2

4 Golongan Lelaki Ahli Neraka

Pada hari akhirat, ada 4 golongan lelaki yang akan ditarik masuk ke neraka oleh wanita. Lelaki itu adalah mereka yang tidak memberikan hak kepada wanita dan tidak menjaga amanah itu. Mereka ialah :

1. Ayahnya
Apabila seseorang yang bergelar ayah tidak memperdulikan anak-anak perempuannya di dunia. Dia tidak memberikan segala keperluan agama seperti mengajar shalat, mengaji & sebagainya. Dia membiarkan anak-anak perempuannya tidak menutup aurat. Tidak cukup hanya dengan memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan ditarik ke neraka oleh anaknya.

2. Suaminya
Apabila seorang suami tidak memperdulikan tindak-tanduk isterinya. Bergaul bebas di luar, memperhiaskan diri bukan untuk suami tapi untuk pandangan kaum lelaki yang bukan mahram. Apabila suami berdiam diri walaupun dia seorang alim, seperti tidak pernah lupa shalat, tidak pernah meninggalkan puasa. Maka dia akan turut ditarik oleh isterinya.

3. Abang-abangnya
Apabila ayahnya sudah tidak ada, tanggung jawab menjaga saudara wanita jatuh ke pangkuan abang-abangnya. Jika mereka hanya mementingkan keluarganya saja dan adik perempuannya dibiarkan melenceng dari ajaran ISLAM, tunggulah tarikan adiknya di akhirat kelak.

4. Anak Lelakinya
Apabila seorang anak tidak menasihati seorang ibu perihal kelakuan yang haram dari Islam, bila ibu berbuat kemungkaran, pengumpat, & sebagainya, maka anak itu akan ditanya dan diminta pertangungjawabannya di akhirat kelak.

Maka kita lihat betapa hebatnya tarikan wanita bukan saja di dunia tapi juga di akhirat pun tarikannya begitu hebat, maka kaum lelaki yang bergelar ayah/suami/abang atau anak harus memainkan peranan mereka.

Firman ALLAH SWT: “HAI ANAK ADAM PERIHARALAH DIRI KAMU SERTA AHLIMU DARI API NERAKA DI MANA BAHAN PEMBAKARNYA IALAH MANUSIA, JIN DAN BATU-BATU…”

Harga seorang muslim adalah sangat berharga. Allah SWT nilaikan seseorang muslim dengan SYURGA, semua kaum muslim dijamin masuk syurga (siapa pun yang mengucapkan kalimah tauhid), oleh karena itu janganlah kita membuang atau tidak mengindahkan janji dan peluang yang Allah SWT berikan pada kita. Wallohu A’lam Bi Showab.

Dikutip dari arsip situs web KotaSantri dengan perubahan seperlunya tanpa mengubah makna.

Cara Nabi Mendidik Anak

From: DENDY W
Date: Tues, Mar 21 2006 5:56 pm
Rabu, 22 Maret 2006 / Thn V
Sumber : Kitab Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli
{ Cara Nabi mendidik anak, Ir. Muhammad Ibnu Abdul hafidh Suwaid }

Kami coba akan meringkas dari buku Kitab Manhaj Tarbiyah Nabawiyah Lith Thifli

Tanggung Jawab pendidikan

Pendidikan anak merupakan beban yang harus dipikul oleh orang tua, dari Ibnu Umar,

Rasulullah saw, bersabda ;
” Masing-masing kalian adalah pemimpin. Masing-masing akan dimintai pertanggung jawaban terhadap kepemimpinannya. Kepala negara adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggung jawabannya terhadap kepemimpinannya, seorang lelaki adalah pemimpin dikeluarganya dan akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinannya, begitu juga pelayan adalah pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinannya. Masing-masing kalian adalah pemimpin dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinannya ” ( Muttafaq’Alaih )

Bahkan Beliau juga meletakkan kaidah dasar yang intinya adalah bahwa seorang anak itu akan tumbuh dewasa sesuai dengan agama orang tuanya.
Sekali lagi bahwa tanggung jawab pendidikan anak ada di pundak orang tua.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan ( At Tahrim ; 6 )

” peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, menurut ;

1. Sayidina Ali ; Ajarkanlah kebaikan kepada dirimu dan keluargamu
2. Imam Fakhrur Rozi ; Perintah terhadap dirimu dan keluargamu untuk meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah
3. Muqatil ; Seorang muslim hendaklah mendidik diri dan keluarganya,memerintah mereka agar melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

MEMAHAMI SIKAP SABAR

From: Arland hmd098
Date: Sat, Mar 11 2006 2:00 pm

MEMAHAMI SIKAP SHABAR

Menurut Imam al-Ghazali, sabar itu terbagi ke dalam dua sudut pandang, yaitu :
pertama: sabar ditinjau dari aspek subyek atau pelakunya,
kedua: sabar ditinjau dari aspek tingkat kekuatan dan kelemahannya.

Kedua segi umum ini kemudian terbagi lagi ke dalam beberapa sub bagian.

1. Sabar Ditinjau dari Aspek Subyeknya
Ditinjau dari aspek subyek atau pelakunya, sabar terbagi ke dalam dua hal, yakni sabar yang bersifat fisik (badany) dan sabar yang bersifat psikis (nafsy).

Sabar yang bersifat fisik (badany) ini dapat berujud kesabaran dalam perbuatan (fi’ly), seperti sabar dalam melanggengkan ibadah shalat malam yang panjang dan melelahkan, dan dapat pula berupa ketabahan dalam menanggung penderitaan (ihtimaly).
Contohnya seperti kesabaran untuk tidak membalas pukulan keras yang dilontarkan seseorang lewat perkataannya atau sabar dalam cobaan sakit yang sangat parah.

Sedangkan sabar yang bersifat psikis (nafsy) adalah kesabaran jiwa dan hati untuk tidak menuruti keinginan hawa nafsu.

2. Sabar Ditinjau dari Aspek Tingkat Kekuatan dan Kelemahannya

Sabar ditinjau dari aspek ini terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu :
a. Kemampuan mengendalikan dan mengalahkan hawa nafsu secara total dan paripurna, sehingga tidak tersisa sedikitpun perlawanan dari hawa nafsu tersebut.
b. Ketidakberdayaan sama sekali di hadapan bujuk rayu hawa nafsu, sehingga yang bersangkutan hanyut dan terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa.
c. Inkonsistensi dalam pengendalian hawa nafsu, sehingga terkadang yang bersangkutan mampu mengalahkannya, namun terkadang pula ia dikalahkan oleh hawa nafsu tersebut.

Sabar dalam aspek ini (ad c) juga terbagi kepada :
a. Tashabur, artinya yang bersangkutan harus mengerahkan segenap kemampuannya dengan susah payah untuk mengalahkan nafsunya.
b. Shabr, artinya yang bersangkutan tidak perlu mengerahkan seluruh kemampuannya untuk dapat mengalahkan nafsunya. Dalam hal ini, yang mampu melakukannya adalah orang yang mempunyai kualitas keimanan dan ketakwaan yang memadai. Dengan kualitas iman dan takwanya yang prima, seberat apapun godaan dan cobaan dari hawa nafsu, baginya tetap merupakan lawan yang mudah ditaklukkan dan dijinakkan.

Sebagai contoh ilustrasi, misalkan seorang pegulat yang besar dan kuat akan dengan mudah mengalahkan lawannya yang kecil dan lemah (shabr), namun seorang pegulat yang kecil dan lemah harus susah payah mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatannya untuk mengalahkan lawannya (tashabur).

Adapula sebagian ulama ahli ma’rifat yang membagi tingkatan orang yang senantiasa sabar (ahl shabr) ke dalam tiga tingkatan, yaitu :
a.Meninggalkan syahwat (keinginan nafsu), tingkatan ini adalah tingkatan orang yang taubat (ta’ibin).
b.Ridla dengan apa yang diberikan Allah SWT kepadanya, tingkatan ini adalah tingkatan orang yang zuhud (zahidin).
c.Mahabah (mencintai) apa saja yang Allah SWT lakukan dan perintahkan, dan ini adalah tingkatan orang-orang yang benar atau lurus (shidiqin).

Kawan….. Semoga kita mampu menempati -paling tidak- salah satu tangga dari banyak tangga yang ada dalam maqam kesabaran ini, Insya Alloh…..

Amien Allohumma Ya Robbal ‘Alamien………

wallohu a’lam bish-shawab,-

Orang-orang yang Didoakan oleh Malaikat

From: masjid_annahl
Date: Wed, Mar 15 2006 12:59 pm
Samsung Enterprise Portal mySingle
From: DADANG SUHADA

Orang – orang yang Didoakan oleh Malaikat
Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi

Allah SWT berfirman, “Sebenarnya (malaikat – malaikat itu) adalah hamba – hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah – perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa’at melainkan kepada orang – orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati – hati karena takut kepada-Nya” (QS Al Anbiyaa’ 26-28)

Inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci’” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2.Orang yang duduk menunggu shalat.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’” (Shahih Muslim no. 469)

3. Orang–orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat.
Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang – orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu” (Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia’” (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’” (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’” (Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang – orang yang berinfak.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’ (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang makan sahur.
Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang makan sahur” (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang menjenguk orang sakit.
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Disarikan dari Buku Orang – orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005.
Semoga Bermanfaat

Bersiaplah Menjadi Ibu

From: DENDY WAHYONO
Date: Wed, Mar 15 2006 9:52 am
Rabu, 15 Maret 2006 / Thn-V
Sumber : aldakwah-Rita Prasetiani

BERSIAPLAH MENJADI IBU

” Ibu adalah sebuah sekolah, yang apabila engkau persiapkan (dengan baik), berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.

Ungkapan seorang penyair di atas menggambarkan betapa besarnya peran seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi yang kelak akan menentukan kualitas suatu bangsa. Ibu adalah sekolah -bahkan sekolahan pertama- bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah pendidikan yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar -terutama dalam aspek keimanan kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.

Gambaran pentingnya tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh Dr. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam Konferensi Dunia tentang Wanita di Beijing yang ia tuturkan berikut ini:

“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan keterampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa awal-awal pertumbuhannya. Walaupun tugas keibuan sebenarnya adalah tugas yang full time, tak berarti ayah sebagai pencari nafkah tak ikut bertanggung jawab. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”

Bagi seorang muslimah, betapapun beratnya tugas seorang ibu tetapi keimanan dan harapannya akan iming-iming surga memotivasinya untuk rela dan bersungguh-sungguh menjadi seorang ibu. Apalagi Islam memberikan kedudukan dan penghormatan yang tinggi terhadap seorang ibu. Seorang ibu muslimah dapat menjadi salah satu penentu seseorang untuk meraih surga seperti sabda Rasulullah saw., berikut ini”

“Surga itu di bawah telapak kaki ibu.” (HR.

Untuk membentuk generasi muslim yang tangguh dan bertaqwa, tidaklah cukup hanya dengan menghadirkan anak-anak yang cerdas saja, melainkan anak-anak yang optimal dari berbagai segi seperti biofisik, psikososial, kultural, dan ruhiyah serta melingkupi skala dunia dan akhirat. Maka untuk mencetak generasi dengan kriteria di atas, dibutuhkan para ibu yang handal, oleh karena itu para muslimah yang kelak akan menjadi calon ibu harus mempersiapkan dirinya untuk menjadi ibu harapan umat. Persiapan ini tidak hanya harus dilakukan setelah menikah, tetapi dapat dimulai saat seorang wanita masih lajang agar ketika ia memasuki perannya sebagai ibu, ia sudah siap melaksanakan tugas keibuannya.

Persiapan Ruhiah

Menyadari besarnya tugas seorang ibu, maka seorang wanita harus banyak-banyak melakukan pendekatan kepada Allah SWT untuk memohon kekuatan ruhiah dan petunjuk dalam mendidik titipan Allah swt tersebut.

Oleh karena itu seorang muslimah harus senantiasa mendirikan ibadah-ibadah selain ibadah wajib. Seorang wanita sholihah ialah muslimah yang mengimani bahwa Allah SWT adalah Robbnya, Muhammad saw adalah Nabinya dan Islam adalah diennya. Ia cinta kepada Allah dan Rasul-Nya serta taat terhadap perintah keduanya dan menjadikan ketaatannya itu sebagai filter yang membentengi dirinya dari kemaksiatan.

Seorang ibu yang sholihah amatlah penting karena ibu adalah orang yang paling dekat dengan anak pada masa-masa balita. Inilah kesempatan untuk menanamkan aqidah keislaman dalam diri anak-anaknya dan mereka didik sang permata hati untuk cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya serta menjauhkan diri dari kemaksiatan dan akhlaq yang rusak. Selain itu ibu yang sholihah diharapkan mampu menciptakan sebuah rumah tangga sakinah yang sangat diperlukan untuk perkembangan jiwa anak.

Dalam persiapan ruhiyah ini banyak hal yang dapat dilakukan sebagai santapan rohani yang bermanfaat seperti:
- Dzikrullah dan Tilawatil Qur’an
Dengan dzikrullah, seseorang akan bertambah cinta dan taqwa kepada Allah dan Allah pun ingat kepadanya sesuai firman Allah SWT:
“Maka ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya aku akan ingat kepadamu”. (QS. Al-Baqarah: 152)
- Menghafalkan Al-Qur’an
- Memperbanyak Istighfar
- Memperbanyak Doa
- Memperbanyak Shalawat kepada Rasulullah saw.
- Qiyamullail
- Memperbanyak ibadah-ibadah sunnah
- Membiasakan hal-hal yang baik.

Jika seorang ingin anaknya rajin bersedekah, maka biasakanlah untuk sering bersedekah karena anak biasanya membutuhkan contoh dari orang tuanya. Jika kita ingin anak kita tidak berdusta, maka janganlah kita contohkan berkata dusta. Jika kita ingin anak kita menghormati kita sebagai orang tuanya, maka hormatilah kedua orang tua kita. Jika kita ingin anak kita tidak berkata dan berbuat kasar, maka berhati-hatilah dalam berbicara karena anak akan merekam dan meniru apa yang diucapkan orang tua atau lingkungannya.

Persiapan Aqliah

“Buat apa anak perempuan sekolah tinggi-tinggi, toh nanti akan ke dapur-dapur juga..” Ungkapan seperti ini sering kita dengar sebagai pernyataan tidak pentingnya kaum wanita menuntut ilmu. Pada sebagai sebuah sekolah bagi anak-anaknya, ibu yang berpendidikan lebih dibutuhkan.

Seorang ibu yang pintar dapat berfikir kreatif bagaimana cara mengembangkan potensi anak-anaknya. Setidaknya seorang ibu yang mencintai pendidikan akan selalu mementingkan pendidikan yang terbaik untuk anak-anaknya.

Untuk menjadi seorang ibu yang pintar tidak harus selalu mendapatkan pengetahuan dari bangku sekolah atau kuliah. Cara yang paling efektif dalam mengembangkan wawasan seorang wanita ialah dengan banyak membaca. Kini sudah banyak tersedia buku-buku tentang metode pendidikan anak secara islami yang menerangkan apa saja hak-hak anak, mendidik anak sesuai tahap perkembangannya, dan tentang kesalahan cara pendidikan anak dan solusinya. Bahkan kini sudah banyak beredar buku yang membicarakan cara-cara mendidik anak sejak dalam kandungan.

Kita tidak perlu menjadi seorang dokter untuk dapat mengobati atau memberikan pertolongan pertama pada anak kita yang sakit. Kini sudah banyak buku-buku yang menerangkan tentang makanan apa saja yang bermanfaat bagi perkembangan tubuh dan otak anak, obat-obatan tradisional, cara menangani pertolongan pertama pada anak, dan lain-lain. Selain membaca, banyak sarana lain yang dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan meningkatkan pengetahuan seperti mengikuti berbagai seminar, ceramah, atau diskusi yang membahas tentang pendidikan anak.

Persiapan Jasmaniah

Kekuatan fisik merupakan hal yang patut diperhatikan oleh seorang calon ibu. Seorang wanita membutuhkan ketahanan fisik untuk menghadapi masa-masa kehamilan dan menyusui. Bagaimana calon ibu dapat mempertahankan kesehatan janin bila ia sudah direpotkan dengan berbagai penyakit karena akibat tidak bisa menjaga kesehatan.

Masa kehamilan adalah masa-masa yang membutuhkan kesehatan fisik wanita secara prima. Allah SWT menggambarkan kelemahan seorang ibu ketika masa kehamilan dalam ayat berikut ini:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman: 14)

Untuk itu seorang muslimah diharuskan menjaga kesehatannya sedini mungkin. Berikut ini ada beberapa kiat sehat ala Rasulullah saw:

1. Selalu bangun sebelum Shubuh
Selain untuk mendapatkan kesegaran udara, bangun sebelum shubuh juga memberikan hikmah berupa berlimpahnya pahala dari Allah dan untuk memperkuat pikiran dan menyehatkan perasaan.

2. Aktif Menjaga Kebersihan

3. Tidak Makan Banyak

4. Gemar Berjalan Kaki

5. Tidak Pemarah

6. Optimis dan Tidak Putus Asa

7. Tak Pernah Iri Hati

Demikianlah persiapan-persiapan dasar yang harus dilakukan seorang wanita sebagai calon ibu pencetak generasi qur’ani yang akan membangun suatu bangsa. Mudah-mudahan kita semakin siap memikul tugas keibuan yang berat tapi mulia ini sehingga kita menjadi ibu yang didambakan oleh umat. Amin

Sumber Bacaan:
Bukan Sembarang Ibu, Muhammad Hassan, Bina Mitra Press 1997
Peran Ibu dalam Mendidik Generasi Muslim, Khairiyah Husain Taha Shabir, MA., CV. Firdaus, 2001
Pembersih Jiwa, Imam al-Ghazali, Imam Ibnu Rajab al-Hambali, Ibnu Qoyyim al-Jauziyah. Penerjemah: Nabhani Idris. Pustaka, 1996